Ada tiga pemateri pada acara kali ini; Ibu Dr. Nor Edzan Binti Che Nasir (Universiti Malaya), bapak Dr. H. Zulfikar Zen, M.A. (Universitas Indonesia), dan bapak Dr. Nurdin Laugu, M.A. (UIN Sunan Kalijaga). Sedangkan sebagai moderator adalah bapak M. Solihin Arianto, MLIS.
Sambutan Pertama dari Kaprodi IP S1 UIN Sunan Kalijaga, Dr. Hj. Sri Rohyanti Zulaikha, M.Si. Beliau menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terlibat yang telah menyukseskan acara ini dan menyampaikan beberapa hal terkait seminar ini. Ibu Sri juga menyampaikan tentang klotokan (semacam mainan anak dari bambu yang menghasilkan bunyi ‘klotok-klotok’ bila diputar) yang merupakan pengganti applause. Klotokan ini merupakan salah satu fasilitas sekaligus souvenir yang disediakan panitia untuk peserta seminar, undangan, pemateri dan moderator.
Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Dr. Hj. Siti Maryam,M.Ag dalam sambutanya menyampaikan terima kasih atas acara ini dan berharap acara seminar nasional ini juga turut memberikan kemajuan bagi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya secara khusus. Dengan membaca basmalah dan membunyikan klotokan, yang diikuti seluruh peserta, beliau membuka seminar nasional ini.
Ibu Nor Edzan menyampaikan materi tentang Universiti Malaya secara lengkap. Dengan bahasa Melayu-nya ia mengatakan banyak hal tentang Universiti Malaya yang berada di peringkat ketiga se-Asia Tenggara dank e-32 se-Asia, juga tentang bagaimana pustakawan di Malaysia yang ternyata berbeda dengan di Indonesia.
Narasumber kedua Zulfikar menyampaikan banyak hal, salah satunya tentang pentingnya sertifikasi Pustakawan “Sertifikasi pustakawan itu memiliki fungsi untuk melindungi profesi, melindungi masyarakat dari malpraktik, wahana penjamin mutu, menjaga lembaga profesi dari keinginan internal dan tekanan eksternal serta untuk memperoleh tunjangan profesi” imbuhnya
Bapak Nurdin sebagai pembicara ketiga tampil membawakan materi tentang isu pragmatic kajian perpustakaan dalam mengahapi persaingan global masyarakat ekonomi ASEAN. SDM di Indonesia perlu dipersiapkan karena akan menghadapi AFTA 2015. Peprpustakaan adalah katalisator untuk hal tersebut tetapi termarginalkan perannya karena paragdigma positivistic masyarakat. “Tidak ada pengembangan pengetahuan tanpa adanya perpustakaan” begitulah salah satu pendapat beliau tentang perpustakaan. Lebih lanjut beliau juga menyampaikan tentang pergeseran paradigma yang diperlukan untuk merubah mindset. Yaitu konstruktivisme kritis yang akan menggantikan positivistik.
Dipenghujung acara ada pemberian kenang-kenangan dari pihak prodi IP kepada pemateri dan moderator. Berikutnya setelah ISHOMA dilanjutkan dengan acara Call for Paper.
http://adab.uin-suka.ac.id/index.php/page/berita/detail/38/seminar-nasional-lis-education